LEBAK – Jurnalpolisinasional.com, Di tengah riuh persiapan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat kemerdekaan di Kampung Tapos Caang, Desa Ciminyak, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, hadir dalam bentuk yang tak biasa.
Bukan sekadar memasang bendera, menggelar perlombaan, atau menghias lingkungan dengan nuansa merah putih. Sejumlah pemuda dan warga setempat memilih sebuah cara yang lebih kreatif, membuat film.
Film itu berjudul “Sang Saka Merah Putih”. Sebuah karya audiovisual yang lahir dari gagasan sederhana, tetapi membawa pesan tentang perjuangan, nasionalisme, gotong royong, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Cerita film tersebut berpusat pada sebuah bendera Merah Putih yang dikeramatkan. Bendera itu dikisahkan sebagai warisan leluhur seorang pejuang pada masa penjajahan, sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Di balik cerita tersebut, tersimpan kisah lain yang tak kalah menarik: bagaimana warga kampung, khususnya anak-anak muda, belajar membuat karya bersama dari apa yang mereka miliki.
Berawal dari Keinginan Membuat Sesuatu yang Berbeda Bagi Rudi, salah seorang pemeran sekaligus penggagas film, ide tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam menyambut momentum kemerdekaan.
Ia tidak ingin perayaan HUT RI hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan. Ada keinginan untuk meninggalkan sebuah kenangan yang dapat disimpan dan dikenang masyarakat Tapos Caang.
“Kami ingin membuat sesuatu yang bisa menjadi kenang-kenangan untuk masyarakat Tapos Caang dalam momentum kemerdekaan.
Yang penting bukan hanya filmnya, tetapi bagaimana anak-anak muda dan warga bisa berkumpul, bekerja sama, dan menghasilkan sebuah karya,” kata Rudi.
Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana film tersebut sebenarnya bukan hanya tentang kamera, pemain, dan cerita.
Ada proses mempertemukan banyak orang.Ada warga yang berdiri di depan kamera sebagai pemeran. Ada pula yang bekerja di belakang layar. Sebagian membantu kebutuhan produksi di lapangan, sementara yang lain memberikan dukungan agar proses pengambilan gambar dapat berjalan.
Rudi sendiri bahkan ikut memberikan dukungan pembiayaan produksi. Keterlibatannya pun tidak berhenti ketika kamera mulai merekam. Ia juga tampil sebagai salah satu pemeran.
Di tempat inilah semangat gotong royong menemukan bentuknya yang berbeda. Dari Kampung, untuk Kampung
Film “Sang Saka Merah Putih” digarap bersama Herman Affandi, warga Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak. Herman bertindak sebagai penulis sekaligus produser dan turut mengembangkan gagasan cerita sebagai salah satu penggagas dan kreator.
Bagi Herman, sebuah film tidak harus selalu lahir dari tempat dengan fasilitas produksi yang lengkap.
Yang lebih penting adalah cerita dan pesan yang ingin disampaikan.
“Ide awalnya bagaimana kita membuat sebuah karya yang dekat dengan masyarakat, tetapi tetap membawa pesan tentang Merah Putih, perjuangan dan rasa cinta kepada Indonesia. Karena itu kami mencoba menuangkannya dalam bentuk film,” ujar Herman.
Dari gagasan itulah cerita kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.
Kampung menjadi ruang produksi. Warga menjadi bagian dari cerita. Sumber daya yang tersedia digunakan semaksimal mungkin.
Bagi sebagian warga, pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang baru.
Mereka yang sebelumnya mungkin hanya mengenal film sebagai sesuatu yang ditonton, kini merasakan sendiri bagaimana sebuah adegan harus dimainkan, karakter harus dihayati, kamera harus diarahkan, dan setiap proses membutuhkan koordinasi.
Seorang warga yang ikut menjadi pemain mengaku awalnya hanya menerima ajakan untuk bermain.
“Awalnya kami hanya ikut karena diajak. Tetapi setelah menjalani prosesnya, ternyata membuat film membutuhkan kerja sama dan kesabaran. Kami senang bisa ikut terlibat dan mudah-mudahan hasilnya bisa diterima masyarakat,” tuturnya.
Belajar Nasionalisme dari Sebuah CeritaDi dalam “Sang Saka Merah Putih”, bendera bukan sekadar kain berwarna merah dan putih.
Bendera menjadi simbol yang menghubungkan cerita tentang masa lalu, perjuangan, dan generasi hari ini.
Nilai itulah yang ingin dibawa para penggagas kepada masyarakat. Terlebih, film tersebut dibuat oleh pemuda dan warga setempat, sehingga proses produksinya sekaligus menjadi ruang belajar dan berekspresi.
Anak-anak muda tidak hanya diajak berbicara tentang nasionalisme, tetapi mencoba menerjemahkannya melalui karya.
Ada kreativitas di dalamnya. Ada kerja sama. Ada pengorbanan waktu dan tenaga. Dan ada keinginan untuk membuat sesuatu yang bisa dinikmati bersama.
Semangat itu pula yang menjadi bagian penting dari film tersebut. Sebab pada akhirnya, kemerdekaan tidak hanya tentang mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi juga tentang apa yang dilakukan generasi sekarang untuk mengisi kemerdekaan.
Di Tapos Caang, sebagian anak muda memilih mengisinya dengan berkarya. Menunggu 17 Agustus Hingga Selasa, 11 Agustus 2026, proses persiapan “Sang Saka 6Merah Putih” masih berlangsung.
Enam pemeran tercatat terlibat dalam film tersebut, yakni Siti Rohmah, Sopian, Supriyadi, Bayu Putra, Ubaidillah, dan Rudi.
Mereka datang dari lingkungan masyarakat sekitar dan terlibat dalam sebuah produksi yang dibangun secara bersama-sama.
Kini, hasil dari proses tersebut tinggal menunggu waktunya diperlihatkan kepada publik.
“Sang Saka Merah Putih” dijadwalkan tayang pada 17 Agustus 2026 di Alun-Alun Tapos Caang, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi para penggagasnya, pemutaran film itu nantinya bukan sekadar acara menonton bersama.
Ada harapan agar layar sederhana di tengah kampung dapat menjadi tempat bertemunya cerita masa lalu dengan semangat generasi hari ini.
Sebuah bendera yang dalam cerita diwariskan oleh leluhur seorang pejuang, kemudian kembali diceritakan oleh generasi yang hidup puluhan tahun setelah Indonesia merdeka.
Dan di balik kamera, ada para pemuda Tapos Caang yang sedang meninggalkan jejak mereka sendiri. Bukan dengan senjata.
Bukan pula dengan pidato panjang. Melainkan dengan sebuah film.
“Sang Saka Merah Putih” — sebuah karya dari kampung, tentang Merah Putih, untuk merawat ingatan dan semangat kemerdekaan.






