Jurnalpolisinasional.com – KBB, salah satu perempuan yang menjabat kepala dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti menunjukkan kiprahnya dalam urusan pertanian dan peternakan,
Berbagai program dan terobosan dilakukannya dalam menggali dan mengembangkan potensi dua sektor itu di Kabupaten Bandung Barat. Perempuan 46 tahun kelahiran Bandung tersebut saat ini menjabat Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat.
Berbagai program tengah dijalankannya. Salah satunya program yang menjadi prioritas adalah ‘Sakur nu Nyusu, Sakur nu Ngendog, Guramekeun Bandung Barat’. “Sebuah program Pemda KBB di sektor perikanan dan peternakan yang berupaya untuk meningkatkan potensi sapi perah, ayam petelur dan ikan gurami,” kata Wiwin saat dihubungi, Jumat 24 Juli 2026.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut menyasar upaya pengembangan sapi perah di kawasan selatan Kabupaten Bandung Barat, yakni Gununghalu dan Rongga. Kawasan itu dilirik untuk meratakan potensi sapi perah yang selama ini terfokus di wilayah utara (Lembang, Parongpong, Cisarua).
Dukungan dilakukan pula dengan layanan inseminasi buatan melalui koperasi serta pemeriksaan kebuntingan. Dengan dukungan itu, setiap bulan lahir sekitar 450 sapi perah di KBB. Dukungan vaksinasi juga tak dilupakan. Tak cuma sapi, sektor ayam petelur ikut diberdayakan.
Dia pun menghimbau para peternak muda untuk melirik komoditas ayam petelur untuk meningkatkan produksi telur lokal. “Dan secara berangsur mengurangi pasokan telur dari luar KBB,” ucapnya. Dengan peningkatan telur lokal, warga KBB pun bisa mandiri, serta mengonsumsi komoditas atau produk yang berasal dari wilayahnya sendiri.
Lebih dari itu, ketergantungan terhadap wilayah lain untuk pasokan komoditas tertentu bisa dihindari. Urusan perikanan pun tak luput dari perhatian. Dispernakan KBB juga tengah menggalakan kelompok masyarakat untuk membudidayakan ikan gurami. Soalnya, nilai ekonomis gurami terbilang tinggi.
Untuk mendukung hal tersebut, bantuan benih dan pakan disiapkan. Bantuan juga menyasar jenis ikan-ikan lain yang dibudidayakan di KBB. Bantuan misalnya, ditujukan untuk penyediaan sarana prasarana berupa bioflok, benih ikan, pakan ikan. “Kemudian untuk meningkatkan SDM para pembudidaya dilaksanakan kegiatan bidang perikanan Ngalong (nganjang ka balong),” ujarnya.
Program tersebut berisi bimbingan teknis tentang perikanan yang dilaksanakan on the spot atau langsung di lokasi para pembudidaya ikan. Dispernakan juga mendatangkan narasumber langsung untuk menyelesaikan masalah/kendala yang dihadapi pembudidaya ikan di lapangan.
Persoalan Wiwin tak menampik ada persoalan dalam budidaya ikan seperti terjadinya peristiwa ikan keramba jaring apung yang mabuk karena arus balik (upwelling) di genangan Waduk PLTA Cirata dan Saguling. Berbagai upaya juga dilakukan Dispernakan mengatasinya dengan membuat surat imbauan tentang kalender tanam ikan.
Surat tersebut berisi informasi waktu tebar ikan yang tepat, jumlah tebar ikan yang diharuskan, serta apa saja yang harus dilakukan apabila terjadi upwelling. “Dinas membuat surat imbauan itu kemudian dikirim ke para camat dan para camat meneruskan surat itu ke lokasi desa yang tergenang dua waduk tersebut,” ucapnya.
Dengan berbagai terobosan dan program itu, potensi KBB yang sudah dikenal dalam sektor peternakan dan perikanan kian berkembang. Tak pelak, kedua sektor berpotensi menjadi andalan Pemerintah KBB sebagai sumber pendapatannya. Di sisi lain, makin majunya sektor peternakan dan pertanian juga bakal mendongkrak kesejahteraan masyarakatnya.**Ridwan






