LEBAK — jurnalpolisinasional com.Puluhan tahun hidup dengan keterbatasan akses jalan, warga Desa Mayak, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, Banten, akhirnya bisa bernapas lega. Pembangunan ruas Jalan Ciburuy–Mayak sepanjang kurang lebih 9 kilometer yang bersumber dari APBD Provinsi Banten kini hampir rampung.
Jalan yang sebelumnya menjadi salah satu persoalan utama masyarakat tersebut kini telah dilakukan betonisasi. Bahkan, sebagian ruas jalan sudah mulai dimanfaatkan warga untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Bagi masyarakat Mayak, pembangunan jalan ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Jalan tersebut menjadi pintu pembuka keterisolasian yang selama puluhan tahun mereka rasakan.
Siman (60), warga setempat, mengungkapkan bahwa sebelum Jalan Ciburuy–Mayak dibangun, warga yang hendak menuju Maja maupun Rangkasbitung harus menempuh jalur memutar melalui Adiyasa.
“Selama puluhan tahun, kalau mau ke Maja atau Rangkasbitung, kami harus melalui Adiyasa,” ujar Siman.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Hasil bumi yang diproduksi warga Mayak selama ini lebih banyak dipasarkan ke wilayah Jasinga dan Tenjo karena keterbatasan akses kendaraan menuju wilayah lainnya.
Abah Saad, sesepuh Desa Mayak, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut warga desanya selama bertahun-tahun seolah terisolasi lantaran tidak memiliki akses jalan yang memadai dan dapat dilalui kendaraan roda empat.
“Memang benar, selama ini warga Desa Mayak sangat terisolir. Hasil bumi warga bahkan banyak yang dibawa ke pasar Jasinga dan Tenjo karena tidak memiliki jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat,” kata Abah Saad.
Menurutnya, pembangunan Jalan Ciburuy–Mayak menjadi momentum penting bagi masyarakat. Akses yang selama ini sulit kini mulai terbuka dan memangkas jalur warga menuju Maja serta Rangkasbitung.
“Kalau bicara merdeka, khususnya warga Desa Mayak, Kecamatan Curugbitung, baru saat ini kami benar-benar merasakan arti kemerdekaan yang sebenarnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, masyarakat kini tidak lagi harus bergantung pada jalur Adiyasa ketika hendak bepergian menuju Maja maupun Rangkasbitung.
“Alhamdulillah, sekarang warga sudah mulai menggunakan jalan ini untuk menuju Maja dan Rangkasbitung. Tidak harus melalui Adiyasa lagi,” katanya.
Pelajar dan Guru Ikut Merasakan Dampak
Manfaat pembangunan jalan juga mulai dirasakan kalangan pelajar dan tenaga pendidik. Sejumlah siswa SMKN 1 dan SMP di wilayah Mayak mengaku senang melihat kondisi jalan yang semakin baik.
Akses jalan yang lebih layak dinilai memberikan kemudahan bagi siswa maupun guru dalam menjalankan aktivitas pendidikan sehari-hari.
Sejumlah guru SMKN dan SMP setempat juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Banten yang telah memberikan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut.
Bagi warga, jalan yang telah dibangun bukan hanya menjadi sarana penghubung antarkawasan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan mempermudah mobilitas masyarakat.
Abah Saad pun mengingatkan agar masyarakat tidak hanya menikmati hasil pembangunan, tetapi juga ikut menjaga kondisi jalan.
“Kita harus merawat jalan ini bersama-sama karena ini merupakan satu-satunya akses bagi warga untuk menuju Maja dan Rangkasbitung,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Banten, khususnya Gubernur Banten Andra Soni, atas perhatian terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah Desa Mayak.
“Saya secara pribadi maupun mewakili warga mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Banten, khususnya Bang Andra Soni,” pungkasnya.
Bagi masyarakat Desa Mayak, betonisasi Jalan Ciburuy–Mayak kini menjadi simbol perubahan. Setelah puluhan tahun menunggu, jalan yang selama ini dinantikan akhirnya hadir dan membuka akses menuju wilayah yang sebelumnya terasa begitu jauh.(Hidayat/Taufik Nur Alam)






