Jurnalpolisinasional.com – KBB, Sabtu (24/01) Sekitar Pukul 02.00 WIB Musibah tanah longsor melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kab, Bandung Barat(KBB),Jawa Barat meninggalkan Duka yang dalam di hati masyarakat Pasir kuning dan pasir kuda
Hari Ke Dua pencarian, Hingga pukul 17.00 WIB, 16 kantung Jenazah, 9 orang telah teridentifikasi, sedangkan sekitar 72 orang masih dalam status hilang dan sedang dicari oleh tim SAR dan gabungan penyelamat lainnya.
Hampir seluruh rumah di Kampung Pasir Kuning dan Kampung Pasir Kuda RT 05 RW 11 tertimbun material longsor yang berasal dari kaki Gunung Pasir Cikarang akibat hujan yang turun dengan intensitas tinggi.
Ini bukan hanya sekadar angka korban dan kerusakan fisik, melainkan juga sebuah keniscayaan yang mengingatkan kita akan kerentanan manusia di hadapan alam.
Di tengah petaka, kesedihan dan kekhawatiran, muncul sinyal harapan yang menyentuh hati, Terlihat bagaimana personel TNI, Polri, BPBD, Basarnas, serta relawan dari berbagai kalangan bekerja tanpa kenal lelah, menggali tanah dengan tangan dan alat seadanya, dibantu oleh anjing pelacak K9, dalam upaya menyelamatkan setiap nyawa para korban.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail telah menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat penanganan, sementara Wakil Bupati Asep Ismail memastikan bahwa 23 warga yang selamat telah diungsikan ke kantor desa dan kebutuhan dasarnya mulai dipenuhi secara bertahap.
Kepala Desa Pasirlangu Nur Awaludin Lubis dan seluruh aparatur desa juga bekerja keras dalam pendataan dan koordinasi bantuan, meskipun dihadapkan pada tantangan, dengan segala situasi dan kondisi yang kurang memungkinkan.
Bantuan dari berbagai penjuru. Masyarakat sekitar dan masyarakat luas secara sukarela memberikan bantuan sembako, pakaian, dan dukungan lainnya. Ini adalah bukti bahwa dalam masa ujian, solidaritas bangsa kita tetap terjalin.
Di balik musibah ini, kita juga harus melakukan refleksi dan intropeksi mendalam. Wilayah Bandung Barat(KBB) termasuk kawasan rawan bencana, dan kejadian ini harus menjadi pemicu bagi kita semua untuk lebih serius dalam upaya mencegah dan menanggulangi musibah.
Mulai dari pemantauan kondisi lingkungan, pengelolaan daerah aliran sungai, hingga peningkatan kesadaran masyarakat tentang tanda-tanda awal bencana dan cara menghadapinya.
Berharap proses pencarian korban dapat segera membuahkan hasil, dan para korban serta keluarga mereka diberikan kekuatan serta ketabahan, dan kita semua bisa belajar dan mengambil hikmahnya dari musibah ini.*Ridwan












