Jurnalpolisinasional.com – KBB, Kang Sabil kunjungi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Citatah, Kabupaten Bandung Barat.
Hampir sepanjang jalan Citatah, Cipatat, Bandung Barat hingga sebelum daerah Rajamandala yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur terdapat jongko-jongko yang menjadi salah satu tempat para pelaku UMKM menjajakan produknya.
Berbagai produk ditawarkan dari setiap penjual, dari mulai kerajinan tangan, kentongan, celengan, mainan hingga kudapan khas Sunda.
Saat mengunjungi salah satu tempat, Kang Sabil sangat tertarik dengan kentongan yang dibuat dengan berbagai bentuk dan ukuran yang tidak seperti biasanya, dari yang berbentuk kentongan pada umumnya hingga berbentuk petai pun ada.
“Ini bagus-bagus ini, kreatif, jadi tidak hanya tetang fungsinya saja kentongan ini tapi juga memiliki nilai yang unik jika menurut saya” tutur Kang Sabil saat berbincang dengan penjual sambil melihat-lihat.
Selain dari produk-produk kerajinan, ada kudapan khas Sunda yang menarik minat Kang Sabil saat berkunjung ke salah satu jongko tersebut yaitu tape singkong atau peuyeum.
“Ini singkong yang di fermentasi, orang Sunda menyebutnya peuyeum, kalau di Sulawesi sana namanya poteng, Peuyeum ini enak kalau siang-siang dimakan bareng eskrim (ice cream), katanya kalau peuyeum ini digoreng balut pake tepung jadi namanya cimplung, kalau di bakar dan makannya di cocol ke gula aren yang di cairkan itu namanya colenak, banyak macamnya memang dari peuyeum ini.
Kang Sabil menuturkan bahwa para pelaku UMKM ini mesti ada sentuhan khusus agar tetap ada dan eksis menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Dengan kenikmatan peuyeum ini dan kondisi zaman sekarang yang begitu banyak makanan-makanan kekinian tapi masih bisa bertahan itu cukup luar biasa, tentunya perlu ada bantuan dari para pelaku usaha untuk lebih berkembang lagi, memanfaatkan teknologi sebagai media pemasaran, jadi tidak hanya menjajakannya di jongko-jongko saja, tentunya untuk anak-anak muda yang peduli bisa lebih mengerti bagaimana cara mengemasnya untuk dapat lebih diketahui banyak orang dan masuk ke kalangan generasi sekarang dengan tidak meninggalkan kekhasannya.*(Ridwan)*
